Apa Itu Kepribadian? || Dwiaji Blog
Apa Itu Kepribadian? || Dwiaji Blog
A. PendahuluanSalam damai sejahtera bagi kita semua.
Halo saudara sekalian, apakah kalian dalam keadaan baik? Saya berharap semoga kalian dalam keadaan yang baik-baik saja. Pada kesempatan kali ini saya sedikit berbagi tentang kepribadian, apa sih kepribadian itu? Langsung saja simak yang berikut ini.
B. Latar Belakang
Ingin berbagi dan penasaran tentang apa itu kepribadian.
C. Tujuan
Supaya dapat meng-intropeksi diri atau berkaca pada diri sendiri dulu sebelum menilai keburukan orang lain atau yang lainnya.
D. Pengertian
Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.
E. Pembahasan
Di atas merupakan struktur tentang kepribadian yang saya buat dengan aplikasi VYM (View Your Mind). Dan saya akan sedikit memaparkan tentang struktur di atas.
1. Struktur Kepribadian
- Hierarki tertinggi : Tipe/Supertraits, kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas.
- Hierarki kedua : Trait, kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen.
- Hierarki ketiga : Kebiasaan tingkah laku atau berpikir, kumpulan respon spesifik, tingkahlaku/pikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.
- Hierarki terendah : Respon spesifik, tingkahlaku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.
a. Ekstraversi (Ekstrover)
Secara umum ekstrover mendapatkan gairah (atau energi) dari interaksi sosial. Ekstrover biasanya memiliki kepribadian yang terbuka dan senang bergaul, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka.
b. Introversi
Introver dianggap mendapatkan gairah lewat menyendiri. Introver, biasanya cenderung pendiam, suka merenung, dan lebih perduli tentang pemikiran mereka dalam dunia mereka sendiri.
3. Ciri-ciri Kepribadian
a. Kepribadian Yang Sehat.
> Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
> Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
> Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
> Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
> Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
> Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
> Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
> Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
> Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
> Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
> Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).
b. Kepribadian Yang Tidak Sehat
> Mudah marah (tersinggung)
> Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
> Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
> Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
> Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
> Kebiasaan berbohong
> Hiperaktif
> Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
> Senang mengkritik/mencemooh orang lain
> Sulit tidur
> Kurang memiliki rasa tanggung jawab
> Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
> Kurang memiliki kesadaran untuk menaati ajaran agama
> Pesimis dalam menghadapi kehidupan
> Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan
4. Faktor Penentu Kepribadian
a. Faktor Keturunan
Keturunan merujuk pada faktor genetika seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu.
Faktor keturunan merupakan faktor yang berasal dari gen awal ke gen berikutnya, contohnya sifat orang tua akan menurun ke sifat anaknya, baik sifat positif maupun negatif. Ini adalah faktor penentu yang besar dalam pembetukan sebuah karakter sebuah pribadi seseorang.
b. Faktor Lingkungan
Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain.
Faktor lingkungan merupakan faktor yang berasal dari sebuah adaptasi atau penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar. Contohnya seperti LondoKampung :
Beliau merupakan warga negara Australia yang lama hidup di Jawa terkhusus di kota Surabaya. Mungkin anda mengira jika kita berkomunikasi dengan beliau dengan menggunakan bahasa Inggris, namun ternyata beliau juga dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dan Jawa. Beliau dapat berbahasa Indonesia dan Jawa karena akibat dari pergaulan beliau dengan teman-teman dan lingkungan sekitar rumahnya, dan otomatis perubahan kebiasaan terjadi pada dirinya, contoh simple yaitu dari kebiasaan makan, yang biasanya awalnya makan spaghetti sekarang dominan makan nasi dan makanan Indonesia. Kalau penasaran dengan sosok silahkan buka DISINI. Disitu anda dapat mengetahui kebiasaannya dalam kehidupan sehari-harinya.
5. Sifat-sifat Kepribadian
Berbagai penelitian awal mengenai struktur kepribadian berkisar di seputar upaya untuk mengidentifikasikan dan menamai karakteristik permanen yang menjelaskan perilaku individu seseorang. Karakteristik yang umumnya melekat dalam diri seorang individu adalah malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia, dan takut. Karakteristik-karakteristik tersebut jika ditunjukkan dalam berbagai situasi, disebut sifat-sifat kepribadian.
6. Cara Mengidentifikasi Kepribadian
a. Myers-Briggs Type Indicator
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah tes kepribadian menggunakan empat karakteristik dan mengklasifikasikan individu ke dalam salah satu dari 16 tipe kepribadian. Berdasarkan jawaban yang diberikan dalam tes tersebut, individu diklasifikasikan ke dalam karakteristik ekstraver atau introver, sensitif atau intuitif, pemikir atau perasa, dan memahami atau menilai. Instrumen ini adalah instrumen penilai kepribadian yang paling sering digunakan. MBTI telah dipraktikkan secara luas di perusahaan-perusahaan global seperti Apple Computers, AT&T, Citgroup, GE, 3M Co., dan berbagai rumah sakit, institusi pendidikan, dan angkatan bersenjata AS.
b. Model Lima Besar
Myers-Briggs Type Indicator kurang memiliki bukti pendukung yang valid, tetapi hal tersebut tidak berlaku pada model lima faktor kepribadian -yang biasanya disebut Model Lima Besar. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah besar penelitian mendukung bahwa lima dimensi dasar saling mendasari dan mencakup sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian manusia. Faktor-faktor lima besar mencakup ekstraversi (extraversion), mudah akur dan bersepakat (agreeableness), sifat berhati-hati (neuroticism), stabilitas emosi (conscientiousness), dan terbuka terhadap hal-hal baru (openness to experience). Lima dimensi ini ada dalam tiap manusia, namun hanya satu dimensi yang mendominasi.
7. Menilai Kepribadian
Terdapat tiga cara utama untuk menilai kepribadian:
b. Survei peringkat oleh pengamat
c. Ukuran proyeksi (Rorschach Inkblot test dan Thematic Apperception Test)
8. Sifat Kepribadian Utama Yang Memengaruhi Perilaku Organisasi
a. Evaluasi Inti Diri
Evaluasi inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas lingkungan mereka.
b. Machiavellianisme
Machiavellianisme adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan jarak emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses.
c. Narsisisme
Narsisisme adalah kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan diri yang berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri sendiri. Sebuah penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis berpikir mereka adalah pemimpin yang lebih baik bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka sebagai pemimpin yang lebih buruk.
d. Pemantauan Diri
Pemantauan diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor situasional eksternal. Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan faktor-faktor situasional eksternal. Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pandai menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat pemantauan diri yang rendah.
e. Kepribadian Tipe A
Kepribadian tipe A adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang menentang dari orang atau hal lain.
Karakteristik tipe A adalah:
> Selalu bergerak, berjalan, dan makan cepat
> Merasa tidak sabaran
> Berusaha keras untuk melakukan atau memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan
> Tidak dapat menikmati waktu luang
> Terobsesi dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa mereka peroleh
f. Kepribadian Proaktif
Kepribadian proaktif adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, dan tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif menciptakan perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau halangan.
F. Kesimpulan
Kepribadian merupakan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain agar terjadi hubungan sosialisasi atar individu.
G. Refrensi
Untuk lebih lengkapnya silahkan buka sumber ini.


0 komentar